Ada yang membuat diri saya marah beberapa hari terakhir ini. Muaranya satu tapi menghasilkan beberapa cabang. Di saat awal menemui sumber kemarahan tersebut, saya hanya memilih untuk meminta maaf dan membuat pernyataan mungkin memang saya yang tak beres saat berkarya, hingga akhirnya membuahkan hasil sebuah kesulitan dan kebingungan bagi generasi selanjutnya. Saya pilih menghindar dan tak ingin membahasnya lebih lanjut, hanya tak ingin kemarahan itu meledak dengan kekuatan ledak yang tidak semestinya.
Saat kedua kali bertemu dengan sumber masalah yang sama, tetapi dengan cabangnya berbeda, ternyata saya tidak mampu untuk mengendalikan ledakannya, ledakan kata-kata dan pecahnya tangis mewarnai respon saya pada masalah kali itu (afwan saya kaget hingga rasanya semua terasa sesak menyesakkan). Yang ketiga dan keempat dengan masalah yang sama, saya memilih untuk menghindar, tapi saya tahu ekspresi kemarahan saya tetap saja terlihat. Saya memendamnya, bukan memaafkannya. Saya menekannya ke dalam, bukan membiarkannya lepas. Continue reading

