Monthly Archives: February 2012

Marah dan memaafkan

Ada yang membuat diri saya marah beberapa hari terakhir ini. Muaranya satu tapi menghasilkan beberapa cabang. Di saat awal menemui sumber kemarahan tersebut, saya hanya memilih untuk meminta maaf dan membuat pernyataan mungkin memang saya yang tak beres saat berkarya, hingga akhirnya membuahkan hasil sebuah kesulitan dan kebingungan bagi generasi selanjutnya. Saya pilih menghindar dan tak ingin membahasnya lebih lanjut, hanya tak ingin kemarahan itu meledak dengan kekuatan ledak yang tidak semestinya.

Saat kedua kali bertemu dengan sumber masalah yang sama, tetapi dengan cabangnya berbeda, ternyata saya tidak mampu untuk mengendalikan ledakannya, ledakan kata-kata dan pecahnya tangis mewarnai respon saya pada masalah kali itu (afwan saya kaget hingga rasanya semua terasa sesak menyesakkan). Yang ketiga dan keempat dengan masalah yang sama, saya memilih untuk menghindar, tapi saya tahu ekspresi kemarahan saya tetap saja terlihat. Saya memendamnya, bukan memaafkannya. Saya menekannya ke dalam, bukan membiarkannya lepas. Continue reading


Sekedar Puisi Untuk Mama

mama….
waktu itu ketika mama bilang, ngga ada yang sayang sama mama kecuali si adek, tahukah mama hati ini terluka. Maka,waktu itu mulut ini pun spontan berkata “kalo kaka….?” mama cuma geleng kepala dan bilang: “kaka gak sayang mama..” lalu mulut ini pun langsung merespon: “kok gitu..?”dan mama bilang..: “itu bisa dirasa dan kaka gak sayang…”
Setelah itu mama pergi dan aku hanya bisa tertunduk lalu menangis…

Kucoba meraba-raba perasaan ini, benarkah yang mama bilang bahwa aku gak sayAang mama? aku coba mengingat ingat lagi dan hati ini memberontak lalu ingin bilang: “bukan aku yang ngga sayang mama, tapi mama yang ngga sayang aku…”tapi sisi hatiku yang lain masih ragu, benarkah mama ngga sayang aku? masa’ ada ibu yang ngga sayang anaknya? tapi memori masa kecil itu begitu sering terlintas.
Continue reading


Mengembalikan LDK Pada Khitahnya

Mengembalikan  LDK Pada Khitahnya

(Refleksi Fenomena Gerakan Dakwah Kampus Dari Virus Pragmatisme)

 Adi Inzar Kusuma

(Ketua Puskomnas 2010-2011)

Muqaddimah

Dakwah kampus semakin menjadi suatu fenomena yang menarik untuk diperhatikan. Dengan segala hambatan dan  rintangan tetap akrab dengan nuansa pergerakan mahasiswa muslim. Dauroh, mentoring, kajian, seminar, sampai pada aksi-aksi keummatan. Kampus tidak lagi sekedar tempat tumbuhnya lokus intelektual semata. Ia pun semakin kental menjadi pusat pertumbuhan semangat dan aktivitas keislaman yang signifikan. Memasuki decade ketiga ini, dakwah kampus tidak cukup dengan stagnansi menjalani hari-hari dakwahnya tanpa sebuah inovasi.

Zaman cepat berubah “Today we have to run faster to stay in the same place”. Begitulah kira-kira ungkapan yang pernah dilontarkan oleh Kotler untuk melukiskan betapa pentingnya menangkap dinamika dan mengantisipasinya dengan langkah yang tepat agar dapat hidup di era turbelensi ini. Dalam kesempatan lain David Held (Global Transformation, 2000) menggambarkan bahwa globalisasi memiliki velocity (kecepatan), intencity (kedalaman), dan extencity (kekuasaan/daya jangkau) yang lebih dasyat dari sebelumnya. Hal ini menjadi tantangan sekaligus ancaman yang harus dihadapi oleh dakwah kampus agar berbenah diri menghadapinya. Continue reading


Film Indonesia, nasibmu kini…

by Aulia Luthfie Ibnu Syahid

Staf Komisi Isu Nasional PUSKOMNAS FSLDK Indonesia

Indonesia sudah berumur 64 tahun, tahukah kita semua jika film Indonesia lahir sebelum bangsa ini merdeka. Tetapi Hari Film Nasional diperingati oleh insan perfilman Indonesia setiap tanggal 30 Maret. Tanggal ini ditetapkan sebagai hari lahirnya Film Nasional karena pada 30 Maret 1950 adalah hari pertama pengambilan gambar film “Darah & Do’a” atau “Long March of Siliwangi” yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Alasan disakralkannya film “Darah & Do’a” karena film ini dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan indonesia. Selain itu inilah film pertama yang benar-benar disutradarai oleh orang Indonesia asli dan juga dilahirkan dari perusahaan film milik orang Indonesia asli. Perusahaan ini bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) Usmar Ismail juga pendirinya.

Film Nasional telah disepakati lahir pada tanggal 30 Maret 1950, namun sebenarnya sejarah pembuatan film cerita di Indonesia yang dulunya bernama Hindia Belanda, sudah dimulai pada tahun 1926. Bahkan sampai tahun 1942 industri film lokal sudah cukup berkembang, meskipun masih kalah bersaing dengan film-film asing terutama dari Amerika. Pada masa itu para pemilik perusahaan-perusahan film lokal adalah orang-orang Cina & Belanda. Judul film cerita yang pertama kali dibuat di negeri ini adalah: “Loetoeng Kasaroeng” yang masih berupa film bisu. Pemain-pemainya adalah orang-orang pribumi, pembuatnya adalah dua orang Belanda: G. Krugers & L. Heuveldorf. Ketika film ini dibuat penduduk di kota-kota besar seperti Batavia, Bandung, Surabaya dll sudah tidak asing lagi dengan pemutaran film yang dulu dikenal dengan sebutan “Gambar Idoep”. Mereka sudah biasa melihat film-film cerita yang berasal dari Amerika, Cina dan Belanda. Penduduk Hindia Belanda khususnya warga Batavia untuk pertama kalinya bisa menyaksikan film di penghujung tahun 1900. Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.